Kisah Bang Yos Melunakkan Habib Rizieq dan FPI



GELORA.CO - Gubernur DKI Jakarta (1997-2007) Sutiyoso menilai beberapa kerumunan yang dilakukan pendukung pentolan FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) di sejumlah tempat akibat kurangnya komunikasi dan koordinasi antara Pemprov DKI dengan Polri dan TNI. Selain itu, juga tidak ada ketegasan dalam menegakkan aturan protokol kesehatan sehingga pelanggaran berulang.

"Mestinya kan sejak kedatangan HRS itu menjalani karantina, tapi itu tidak dilakukan," kata Sutiyoso yang biasa disapa Bang Yos saat ditemui tim Blak-blakan di kediamannya, Sabtu (28/11/2020).

Bila sejak dini pihak-pihak terkait itu melakukan pendekatan ke para pengurus Front Pembela Islam (FPI) maupun pihak Rizieq Shihab langsung, kemungkinan pelanggaran protokol Kesehatan tidak terjadi berulang.

Bang Yos percaya, sekeras apapun karakter HRS pada dasarnya dia tetap bisa diajak berbicara secara logis. Saat memimpin Jakarta selama 10 tahun, dia mengaku sering didemo kelompok FPI pimpinan HRS. "Tidak bisa dihitung dengan jari aksi demo FPI ke Balai Kota," kenang Bang Yos.

Puncak aksi demo terjadi ketika mereka mengepung Balai Kota. Seorang pejabat Pemda DKI bahkan pernah menyarankan agar dia tidak ke kantor. "Kantor kita diduduki FPI, Pak. Kantor kita sudah kayak salju pak, putih semua," ujar Sutiyoso menirukan laporan stafnya.

Mantan perwira tinggi Kopassus itu tentu tak ciut nyali. Dia tetap datang ke kantor dengan keyakinan, "lempengan baja yang keras saja bisa dibengkokan". Apalagi hati manusia seperti HRS.

Dia pun langsung menemui HRS dan para pengurus FPI. Mereka sudah menyiapkan tuntutan tertulis untuk ditandatangani Sutiyoso sebagai gubernur. Intinya, mereka meminta agar gubernur menutup semua tempat hiburan dan restoran di Jakarta selama Ramadan.

Bang Yos tegas menolak. Alasannya dia sudah terikat dengan Peraturan Daerah (Perda) hasil kesepakatan dengan DPRD dan telah dikonsultasikan kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia). Kepada HRS dan rombongannya, dia menjelaskan Perda sudah mengatur bahwa tempat hiburan boleh buka setelah salat tarawih selesai dan tutup sebelum memasuki waktu sahur.

Selain itu, dari hasil survei 90 persen pekerja di tempat hiburan adalah muslim. Selain mendapat gaji, mereka juga berharap mendapatkan tip dari para tamu untuk dibawa mudik ke kampung halaman.

Bang Yos juga menjelaskan jika posisi Gubernur adalah melayani semua orang dan kalangan di Jakarta. Dia menyarankan ke HRS untuk membawa surat tuntutannya itu ke DPRD. "Ya tentu sempat eyel-eyelan dulu tapi akhirnya HRS dan pengikutnya membubarkan diri dari Balai Kota DKI Jakarta," tutur Sutiyoso.

Dari pengalaman tersebut dia berasumsi sekeras apa pun HRS bisa diajak berbicara. Di tengah kondisi pandemi sekarang ini, Bang Yos percaya HRS pun dapat diajak bicara agar tidak lagi melakukan aktivitas yang mengundang kerumunan massa. "Saya kira HRS mau mendengarkan kalau diajak bicara dari hati ke hati," pungkas Bang Yos.

Pada bagian lain, mantan Kepala BIN itu juga sempat menyinggung sosok Presiden RI pertama Sukarno, dan Anies Baswedan. Sebagai mantan Pangdam Jaya, dia juga menyampaikan pandangannya terkait penurunan baliho HRS oleh TNI. Seperti apa persisnya? Simak Blak-blakan Sutiyoso, "Siasat Menghadapi Habib Rizieq". []
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Bang Yos Melunakkan Habib Rizieq dan FPI"

Posting Komentar