Naik 25,5 Persen, BUMN Gaspol Utang Luar Negeri di Saat Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,3 Persen



GELORA.CO - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah kepemimpinan Erick Thohir juga menjadi penyebab krisis atau risiko default yang cukup besar.

Hal itu disampaikan oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira di acara diskusi virtual Indonesia Leader Talk (ILT) 6 bertajuk "Ancaman Resesi Ekonomi Vs Cita-cita Kesejahteraan Rakyat" Senin (7/9).

Dihadapan Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera, Bhima meminta tolong untuk menyampaikan kepada pemerintah ada yang tidak benar di tubuh BUMN.

Yakni, BUMN utang luar negeri mengalami kenaikan mencapai 25,5 persen di saat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 mengalami kontraksi minus 5,3 persen.

"Ini gak bener nih, soalnya BUMN itu gaspol utang luar negerinya 25,5 persen naiknya sementara ekonomi kita kan mengalami kontraksi minus 5,3 persen," ujar Bhima Yudhistira.

Akibatnya kata Bhima, BUMN juga akan menyebabkan krisis atau risiko default yang cukup besar.

"Khususnya BUMN di sektor energi, ada PLN ada Pertamina," katanya.

Selain itu, BUMN di sektor kontruksi juga mengalami pertumbuhan utang luar negeri yang harus dipelototin karena dianggap banyak proyek yang terpengaruh dengan adanya pandemik Covid-19.

"Dan pasca pandemi proyek-proyek itu bisa jadi justru akan makin bocor untuk pembiayaan operasionalnya. Jadi pendapatannya tidak akan menutup biaya operasional," jelas Bhima.

"Nah ini saya kira ini ada anomali utang naik luar biasa, bunganya juga relatif mahal, sementara sektor realnya terkontraksi. Ini yang saya sebut sebagai bubble utang BUMN," pungkasnya. (*)
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Naik 25,5 Persen, BUMN Gaspol Utang Luar Negeri di Saat Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,3 Persen"

Posting Komentar