Mas Kiai Dan 'Suket Teki'


 KAMI pertama kali bertemu dan berkenalan pada tahun 1989, di Surabaya. Dunia jurnalistiklah yang mempertemukan kami berdua: sama-sama sebagai wartawan muda. Pertemuan itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa, kecuali satu hal: ia anak seorang kiai dan cucu seorang kiai dari sebuah pesantren di Jawa Timur. Kiai adalah salah satu unsur utama dari pesantren, selain santri, masjid, pondok, dan kitab kuning.
Perkawanan itu berjalan biasa, sampai kami berpisah, berjauhan secara geografis. Waktu terus berjalan dan menampung segala peristiwa sejarah. Sejarah dicatat dalam buku, tetapi sejarah tidak ditampung di dalam buku, melainkan di dalam waktu. Waktu membentuk sejarah.

Waktu dan kejadian-kejadian yang berada di dalam kelangsungan proses waktu membentuk keseluruhan sejarah. Banyak yang terjadi peristiwa dalam perjalanan hidup kami yang menjadi bagian sejarah kami masing-masing.

Suatu ketika, ia meninggalkan dunia jurnalistik, terjun ke perusahaan minuman asal Amerika, lalu bekerja di sebuah bank terkenal yang berinduk di Inggris. Tiba-tiba, melompat terlibat dalam kegiatan sebuah organisasi olah raga paling populer di negeri ini, lalu membuka perusahaan public relation, dan terakhir kerja di sebuah perusahan televisi berlangganan.

Tetapi, ibarat peribahasa, “Setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya ke pelimbahan (kubang) juga,” sejauh-jauhnya merantau akhirnya kembali ke kampung halaman juga. Ia kembali ke pesantren. Tidak sebagai santri, tentu, melainkan sebagai pengasuh.

Panggilan?

“Begitulah. Aku kudu ngasuh pondok. Wong iki tinggalane mbah-mbah. Biyen Mbah Kung soko ibu iku, Mbah Maksum Ali kuwi mantune KH Hasyim Ashari. Beliau ditugasi gawe pondok. Lalu setelah itu, bapakku, Machfudz Anwar, dan sekarang giliran aku,” kata Mas Kiai—begitu saya memanggilnya—sambil tertawa.

Inilah panggilan hidup. Panggilan hidup adalah suatu dorongan dari dalam diri manusia untuk berkarya sesuai agenda Allah dengan menggunakan karunia yang ada dalam dirinya. Panggilan hidup tidak perlu dicari, cuma perlu disingkapkan saja. Karena panggilan hidup itu ada di dalam diri kita masing-masing.

“Dan, ternyata panggilan saya mengasuh pondok,” katanya .

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, pondok pesantren, tentu peran yang diambil adalah usaha untuk mencerdaskan pendidikan bangsa. Sebuah peran yang sudah dijalankan sejak jauh sebelum republik ini lahir.

Seorang sahabat asal Madura yang pernah menuntut ilmu di Universitas Al- Azhar, Kairo Mesir, mengatakan, pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, melainkan pembentukan karakter. Para santri dididik dan diberi pemahaman bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan.

Pengasuh pondok bagaikan seorang penabur benih: ada benih yang jatuh di tepi jalan, ada di tanah berbatu, ada benih yang jatuh di semak-berduri, dan ada benih yang jatuh di tanah yang subur. Benih yang jatuh di tepi jalan, mungkin segera diinjak-injak orang, atau dimakan burung. Tidak tumbuh.

Benih yang jatuh di atas tanah bebatuan, mungkin hidup, tetapi tidak bertahan lama, karena tanahnya tipis. Yang jatuh di antara semak berduri, tumbuh tetapi dalam perjalanan waktu akan kalah dengan semak-duri dan tidak menghasilkan apa-apa. Sedangkan yang jatuh di tanah subur, akan tumbuh, berkembang dan berbuah.

“Yah, seperti yang dikatakan Didi Kempot, ‘tak tandur pari jebul thukule malah suket teki kutanam padi ternyata yang tumbuh malah rumput teki.’ Begitulah. Apalagi di zaman sekarang ini, semua lembaga pendidikan menghadapi persoalan seperti itu. Maka itu pendidikan karakter menjadi sangat penting,” kata Mas Kiai.

Rumput teki, suket teki tidak hanya bisa tumbuh dalam “hubungan asmara” seperti yang dikisahkan Didi Kempot, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara. Banyak pejabat yang ketika diangkat mengucapkan sumpah dengan memegang kitab suci, tetapi dalam perjalanan waktu ada yang menjadi suket teki, menjadi gulma, rumput yang mengganggu kehidupan tanaman lain, mengingkari sumpah jabatannya: korupsi!

“Jebule janjimu, jebule sumpahmu ra biso digugu ternyata janjimu, ternyata sumpahmu tidak bisa dipercaya,” teriak Didi Kempot.

Mengapa bisa terjadi semacam itu? Antrolopog Niels Mulder merumuskan sikap semacam itu sebagai cerminan dari orang yang “terkosongkan dari kandungan moral” (emptied of moral content). Istilah tersebut adalah tesis Niels Mulder tentang masyarakat Jawa (2012). Tetapi, rasanya, kini yang mengalami “terkosongkan dari kandungan moral” tidak hanya masyarakat
Jawa saja.

Ungkapan “terkosongkan dari kandungan moral,” bentuknya macam-macam, termasuk dalam hal ini orang yang mengingkari nilai-nilai toleransi dalam hidup beragama, misalnya. Bukankah agama mengajarkan semua pemeluknya untuk saling menghormati.

Semua agama mengajarkan umatnya untuk menghindari kekerasan, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk membunuh dan melukai umat lain. Semua agama juga mengajarkan manusia untuk memiliki solidaritas, kemanusiaan dalam segala aspek kehidupan. Semua agama mengajarkan nilai-nilai kesetaraan dan toleransi sesama umat manusia lainnya.

Orang beragama yang mengingkari semua itu, bagaikan suket teki yang tumbuh di taman dengan hamparan rumput gajah mini, rumput jepang, rumput gajah mini verigata, rumput Swiss, atau rumput golf yang subur dan hijau begitu indah dipandang mata. Ibarat ilalang yang tumbuh di tengah hamparan tanaman padi: harus dicabut dan dibakar.

“Itulah tantangan zaman sekarang. Zaman yang disebut zaman teknologi maju. Generasi sekarang disebut generasi teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi telah membuat membanjirnya informasi. Perkembangan teknologi ini membawa suatu arus perubahan bagi masyarakat secara luas, termasuk para santri. Perubahan itu bisa saja baik dan juga buruk: mencakup pola pikir, cara bertindak, gaya hidup, dan memperoleh kemudahan- kemudahan hidup. Sekali lagi, inilah tantangannya,” jelas Mas Kiai.

Mas Kiai masih melanjutkan, “Kalau para santri banyak yang melek teknologi, ada paranoid kalau akses dibuka terlalu luas. Masjid kami ada wifi-nya. Santri boleh membuka apa saja. Nek membuka sing negatif, ya risiko dunia akhirat,” katanya disusul derai tawanya.

“Kami kan nggak mau nandur suket teki. Kami ingin nenanam padi dan tumbuh padi, padi yang mentes, bernas. Ada macam-macam jenis padi. Ini sama dengan masyarakat Indonesia, majemuk segalanya. Karena itu, harmoni kehidupan harus terus dibangun dipelihara. Untuk mencapai hal tersebut, harus ada kematangan spiritual dan agama dari setiap manusia,” demikian hajat Mas Kiai.

“Manusia, sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna memiliki kewajiban untuk mewujudkan dunia yang adil dan damai hingga akhir kehidupan ini. Tidak ada satupun orang yang memiliki hak untuk memonopoli dunia ini demi kepentingan apapun. Bukankah demikian?” jelas Mas Kiai penuh semangat.

Itu tidak mudah. “Ya, itu tidak mudah,” potongnya cepat.

Lalu, Mas Kiai masih bicara soal toleransi yang diajarkan kepada para santrinya. Menurut dia, toleransi berarti sifat dan sikap menghargai. Sifat dan sikap menghargai harus ditunjukkan oleh siapapun terhadap bentuk pluralitas yang ada di Indonesia sejak semula. Toleransi merupakan sikap yang paling sederhana.

Akan tetapi, mempunyai dampak yang positif bagi integritas bangsa pada umumnya dan kerukunan bermasyarakat pada khususnya. Tidak adanya sikap toleransi dapat memicu konflik yang tidak diharapkan semua pihak pencinta perdamaian.

Sama halnya dengan kejujuran. Konsep kejujuran juga diajarkan oleh setiap agama. Bukankah, semua agama menginginkan umatnya untuk bertindak dan berkata sesuai dengan kebenaran yang ada.

“Tetapi, bahwa ada yang kemudian menebarkan, menyebarkan ketidak-benaran demi keuntungan diri, kelompok, atau golongan itu sesuatu yang nyata. Apalagi di zaman teknologi maju sekarang ini. Itu yang harus diperangi,” katanya.

“Yah, semoga padi yang kutanam sekarang ini, nantinya benar-benar tumbuh sebagai padi bukan suket teki, sehingga berguna bagi negeri ini,” kata Mas Kiai malam itu sebelum mengakhiri perbincangan kami, setelah beberapa tahun tak berjumpa.

Di ujung obrolan, kami berjanji untuk bertemu setelah pandemik Covid-19.

Mas Kiai, sampeyan bukan sekadar tetesan di tengah samudra, melainkan samudra dahsyat dalam tetesan,” kata saya mengakhiri obrolan kami mengutip Jalaluddin Rumi (1207-1273), seorang sufi dari Balkh, sekarang masuk wilayah Afganistan.

“Ah, sampeyan ada-ada saja,” katanya pendek lalu tertawa.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mas Kiai Dan 'Suket Teki'"

Posting Komentar