Lebih Mengerikan dari Corona, Begini Fakta Sejarah Flu Spanyol



GELORA.CO - Hingga Sabtu (2/5), Virus Corona telah menyerang jutaan orang di seluruh dunia dan menyebabkan sekitar ratusan ribu orang meninggal dunia. Wabah itu telah ditetapkan sebagai pandemi.

Berbagai agenda besar internasional terpaksa ditunda gara-gara merebaknya Corona. Sama seperti negara lain, virus Corona pun tersebut masuk ke Indonesia, dan telah menyerang hampir belasan ribu orang.

Namun di zaman dulu, tepatnya pada tahun 1918, ada wabah yang lebih mengerikan dari Corona. Wabah tersebut adalah Flu Spanyol.

Tak jelas dari mana dan bagaimana virus ini muncul. Namun pada akhir musim semi 1918, sebuah kantor berita di Spanyol mengabarkan bahwa sebuah wabah penyakit dengan karakter epidemi telah muncul di Spanyol.

Kantor berita itu mengabarkan bahwa epidemi itu sifatnya ringan. Namun dua minggu setelah laporan itu diterbitkan, wabah flu spanyol telah menginfeksi 100.000 orang.

Di hari-hari berikutnya penyakit itu telah berubah menjadi pandemi. Bahkan virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai The Mother Of All Pandemics.

Berikut ini 8 fakta sejarah flu spanyol yang juga sampai ke Indonesia pada tahun 1918.

Gejala Penderita Flu Spanyol

Gejala penyakit ini antara lain ditandai dengan sakit kepala dan kelelahan yang diikuti batuk kering, kehilangan nafsu makan, dan timbulnya masalah pada perut.

Pada hari kedua, penderita akan mengeluarkan keringat dan menderita gangguan pernapasan. Lalu gangguan pernapasan yang biasa disebut pneumonia itu berkembang lebih buruk lagi.

Dalam Buku Mark Humphries berjudul The Last Plague, pneumonia, atau kompilasi pernapasan yang disebabkan oleh flu sering menjadi penyebab utama kematian. Hal inilah yang menyebabkan mengapa sulit untuk menentukan jumlah pasti penderita yang meninggal karena flu. Karena penyebab kematian berasal dari sesuatu selain flu.

Semenntara itu, dilansir dari Historia.id, cepatnya penularan disebabkan karena virus itu menular lewat udara, sehingga jangkauannya lebih luas dan membuat jumlah korban amat tinggi. Tercatat 60 persen dari populasi dunia tertular virus ini.

Flu Spanyol Sampai ke Indonesia

Flu Spanyol kemungkinan masuk ke Indonesia melalui jalan darat. Pemerintah Hindia Belanda mencatat, virus ini pertama kali dibawa oleh penumpang kapal dari Malaysia dan Singapura dan menyebar melalui Sumatra Utara.

Virus itu kemudian menyerang kota-kota besar di Jawa pada Juli 1918. Pada awal penyebarannya, penduduk tidak sadar ada sebuah virus yang menyebar cepat dan mengamuk dengan amat ganas. Apalagi saat itu perhatian pemerintah tertuju pada penanganan penyakit menular lain seperti kolera, pes, dan cacar.

Menyerang Kota-kota Besar di Jawa

Pada awal kedatangannya di Indonesia, hanya sedikit orang yang berpikir bahwa Flu Spanyol itu berbahaya. Bahkan Asosiasi Dokter Batavia menyimpulkan bahwa Flu Spanyol tidaklah berbahaya bila dibandingkan dengan flu pada umumnya.

Akibatnya dalam hitungan minggu, virus itu menyebar ke Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Purworejo dan Kudus), dan Jawa Timur (Kertosono, Surabaya, dan Jatiroto).

Selain Pulau Jawa, virus itu juga menjangkit Kalimantan (Banjarmasin dan Pulau Laut) sebelum mencapai Bali, Sulawesi, dan pulau-pulau lain di sekitarnya.

Kesalahpahaman Mengenai Flu Spanyol

Kesalahpahaman terhadap Flu Spanyol menjadi salah satu penyebab telatnya penanganan terhadap pandemi itu. Dinas Kesehata Sipil Hindia Belanda (BGD) bahkan sempat salah dengan mengira penyakit itu adalah kolera.

Akibatnya, setelah muncul berbagai gejala, pemerintah langsung mengintruksikan BGD mengadakan vaksin kolera di tiap daerah. Kesalahan penanganan ini membuat jumlah korban meninggal makin banyak, yang sebagian besar dari kalangan Tionghoa dan Bumiputera.

Selain itu menurut pengamatan BGD, gejala yang muncul dari virus itu persis dengan flu biasa. Penderita merasa pilek berat, batuk kering, bersin-bersin, dan sakit kepala akut di awal.

Bukannya mereda, pada hari keempat atau kelima, virus telah menyebar hingga paru-paru dan berkembang menjadi pneumonia. Kalau penderita sudah sampai tahapan ini, kecil kemungkinan bagi dia untuk bertahan.

Gelombang Kedua Penyebaran Virus

Bila pada gelombang pertama (Juli-September) virus itu hanya menyerang pulau-pulau besar di Indonesia, pada gelombang kedua (Oktober-Desember) virus itu telah sampai di pulau-pulau kecil Nusantara. Bahkan pada Januari 1919 virus itu masih menyerang Pulau Buton.

Harian Sin Pao menyebutkan karena virus itu, 200 pekerja perkebunan di Jawa Barat terinfeksi pandemic sehingga tidak bisa bekerja. Hal itu membuat produksi kopi menjadi terhambat.

Sementara itu di Padang, kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah dihentikan karena mayoritas murid dan guru terinfeksi Flu Spanyol.

Keterbatasan Rumah Sakit

Banyaknya korban Flu Spanyol tidak diimbangi dengan jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia. Seluruh rumah sakit mendadak kebanjiran pasien.

Karena keterbatasan kamar, banyak pasien pula yang tidak bisa ditampung rumah sakit itu. Selain itu para dokter juga tak bisa berbuat banyak karena mayoritas dari mereka belum mengenal virus itu.

Bahkan menurut majalah Kolonial Weekblad (1919), masing-masing dokter di Makassar harus bertanggung jawab terhadap nasib 800 pasien. Saking frustasinya, seorang dokter di Rembang mengatakan tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit itu selain amal baik seseorang.

Bahkan beberapa dokter memanfaatkan momentum itu dengan menaikkan tarif berobat. Mereka beralasan kenaikan tarif itu dilakukan agar tidak harus melayani banyak pasien.

Kondisi Mencekam di Jawa

Keterbatasan fasilitas kesehatan membuat makin banyak penderita Flu Spanyol yang tidak terawat. Pengobatan tradisional-pun nyatanya juga tidak banyak menolong. Di Pasuruan, mayat-mayat terpaksa ditelantarkan di pinggir jalan karena banyak penggali kubur yang tertular virus itu.

Dalam laporan BGD tahun 1920 menyebutkan, seluruh desa di Hindia Belanda tidak ada yang tidak terinfeksi penyakit itu. Akibatnya, pintu rumah tertutup, jalan-jalan begitu lengang, dan anak-anak banyak yang menangis di rumah karena merasa haus.

Banyak binatang yang meninggal. Hari-hari itu sangat penuh dengan kesengsaraan.

Banyak Korban Meninggal

Atas peristiwa mengerikan itu, banyak korban meninggal berjatuhan. Pada November 1918, jumlah penduduk Indonesia yang meninggal karena Flu Spanyol berjumlah 402.163 jiwa. Namun sebenarnya tidak diketahui secara pasti berapa jumlah korban meninggal.

Menurut Collin Brown dalam buku The Influenza Pandemic 1918 in Indonesia, jumlah korban Flu Spanyol di Indonesia berjumlah 1,5 juta jiwa. Sementara itu Flu Spanyol menyebabkan presentase kematian di Jawa Tengah dan Jawa Timur naik dua kali lipat bahkan lebih. [ljc/mdk]
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lebih Mengerikan dari Corona, Begini Fakta Sejarah Flu Spanyol"

Posting Komentar