Ketidakmampuan Melacak Dan Stigma Tidak Jujur


Oleh: Hendra J. Kede
 SETIAP pilihan itu ada konsekuensinya, baik positif maupun negatif, itu sudah sunnatullah, sudah hukum alam.

Sebaik-baik pilihan tentunya adalah pilihan yang konsekuensi positifnya lebih besar daripada konsekuensi negatifnya.

Sebaik-baik pilihan tentunya adalah pililihan yang sudah teridentifikasi konsekuensi positif dan negatifnya itu.

Sebaik-baik pilihan tentunya adalah pilihan yang konsekuensi negatifnya sudah diantisipasi dengan baik, dan kalaupun terjadi sudah ada mekanisme untuk menyikapinya.

Sehingga saat konsekuensi dari sebuah pilihan muncul ke permukaan maka seyogyanya disikapi sebagai sebuah konsekuensi semata dan tinggal menjalankan prosedur antisipasi yang sudah disiapkan.

Amatlah kurang bijak apabila saat konsekuensi logis negatif dari sebuah pilihan muncul, kemudian yang dilakukan adalah menyalah-nyalahkan pihak lain.

*

Hukum alam tersebut lebih-lebih harus disadari betul pada saat keadaan darurat, seperti keadaan darurat kesehatan dan darurat kebencanaan Pandemi Corona yang melanda dunia seperti saat sekarang ini.

Keterbatasan waktu, kecepatan pensikapan, dan ketepatan penanganan menjadi sangat penting. Sedikit kesalahan saja dalam mengambil pilihan akan sangat fatal akibatnya. Sedikit waktu saja terlewatkan akan sangat serius implikasinya.

Tidak ada waktu untuk mengkambing-hitamkan pihak lain. Tidak ada waktu untuk menyalah-nyalahkan pihak lain. Apalagi jika pihak lain tersebut pada dasarnya adalah korban juga.

*

Plihannya yang sudah diambil dalam penanganan dan pengendalian penyebaran Virus Corona adalah melakukan tracking dan tracing secara agresif oleh petugas dengan partisipasi minimal dari masyarakat untuk secara mandiri mengidentifikasi potensi ketertularan melalui Pencegahan Oleh Diri Sendiri (PODIS).

Pilihannya yang sudah diambil dalam penanganan dan pengendalian penyebaran Virus Corona adalah menutup rapat siapa saja Pasien Positif Corona, siapa saja Pasien Dalam Pemantauan (PDP), siapa saja Orang Dalam Pengawasan (ODP) sehingga wajar sekali jika pengetahuan masyarakat luas tentang informasi ini sangatlah minimum.

Sehingga amatlah sangat wajar juga dan merupakan konsekuensi amat sangat logis saja jika masyarakat luas tidak pernah tahu apakah dia pernah atau tidak pernah berinteraksi dengan Pasien Positif Corona, PDP, apalagi ODP.

Amat sangat logis sekali itu... dan jangan sampai berfikir itu sebuah ketidak-logisan.... berbahaya kalau sampai berdikir demikian...

Sehingga amat sangat logis juga jika beban untuk mengetahui ini tidak bisa dibebankan kepada masyarakat luas, dengan segala implikasinya.

Sehingga amat sangat logis sekali juga jika beban untuk mengetahui ini ada pada petugas yang bertanggung jawab melakukan tracking dan tracing secara progresif tadi, tidak selain dari pada itu. Mereka yang seharusnya punya informasinya.

Sehingga amat sangat logis sekali juga jika ada masyarakat yang tidak terlacak, dan kemudian dia pergi berobat ke Rumah Sakit karena merasakan sakit, dan dia menjawab tidak tahu saat ditanya apakah pernah berinteraksi dengan Pasien Positif Corona, PDP, apalagi ODP.

Memberikan stigma tidak jujur kepada masyarakat yang tertular Virus Corona dan menularkan amatlah sangat tidak bijaksana dalam situasi itu, karena pilihan yang diambil tidak memungkinkan masyarakat memiliki informasi lengkap tentang itu.

Memberikan stigma tidak jujur kepada masyarakat yang tidak difasilitasi untuk mendapatkan infornasi lengkap, sebagai implikasi sebuah pilihan kebijakan, merupakan kesimpulan yang amat menggampangkan masalah dan terkesan sekedar mencari-cari kambing hitam.

Seharusnya, jika ada yang tertular dari klaster tidak diketahui ini, yang harus dievaluasi adalah pilihan dan segala ketentuan pengelolaan pengendalian penyebaran Virus Corona melalui tracking dan tracing agresif dengan membatasi informasi kepada masyarakat terutama informasi sumber penular.

Atau pilih pilihan lain, bebankan sekalian beban untuk mengetahui informasi ini kepada masyarakat, itu lebih fair.

Sehingga masyarakat dianggap mengetahui apakah pernah atau tidak pernah berinteraksi dengan Pasien Positif Corona, PDP, dan ODP, layaknya beban mengetahui sebuah isi peraturan oleh masyarakat karena sudah diundangkan dan dicatatkan dalam Lembaran Negara.

Namun syaratnya adalah segala informasi tentang Pasien Positif Corona, PDP, dan ODP harus dibuka seterbuka-bukanya kepada masyarakat, setidaknya kepada masyarakat sekitar pasien Corona.

Konsekuensi negatif dari pilihan ini bukan tidak ada juga, tinggal diidentifikasi dan diantisipasi juga.

*

Semua pilihan itu ada konsekuensinya. Pilihan terbaik haruslah dibarengi sikap konsisten, termasuk sikap konsisten tahapan resiko dari sebuah pilihan.

Bukankah pilihan terbaik itu adalah pilihan yang sudah teridentifikasi potensi resiko dari sebuah pilihan?

Bukankah pilihan terbaik itu adalah pilihan yang sudah memiliki mekanisme evaluasi atas suatu kejadian di lapangan berbasis pilihan yang sudah diambil?

Masyarakat yang tertular Virus Corona itu pada dasarnya adalah korban. Amatlah bijak jika memperlakukan mereka dalam posisi sebagai korban.

Tidak tertutup kemungkinan mereka menjadi korban tertular Virus Corona karena sebuah pilihan kebijakan itu sendiri.

Sehingga janganlah ditambah beban mereka dan keluarganya dengan stigma tidak jujur, apalagi jika stigma itu diucapkan pejabat yang bertanggungjawab atas pilihan yang sudah diambil.

Kalau ada masyarakat yang tidak terdeteksi pernah bersinggungan dengan Pasien Corona, dalam posisi pilihan penanganan penanggulangan Virus Corona saat ini, yang perlu dipertanyakan dan dievaluasi adalah proses dan petugas yang bertanggung jawab dalam program tracking dan tracingnya, bukan masyarakat luas. Beban pengetahuannya ada disana karena disana infornasinya berada, bukan di masyarakat luas.

Janganlah masyarakat disalah-salahkan, janganlah masyarakat diberikan stigma tidak jujur, apalagi secara masif melalui media, khawatirnya masyarakat tergiring untuk berfikir liar yang tidak produktif juga.

Seperti, misalnya, masyarakat berfikif liar dan tidak produktif dengan bertanya-tanya : Jangan-jangan istilah Orang Tanpa Gejala (OTG) sengaja dimunculkan untuk menutupi ketidakmampuan sumber daya yang ada untuk melakukan tracking dan tracing secara agresif dan menyeluruh sehingga ada yang lolos dari proses tracking dan tracing tersebut?

Kembali ke laptop...

Penting sekali untuk fokus bahwa yang perlu dievaluasi adalah kampuan untuk melacak orang yang pernah berinteraksi dengan Pasien Corona.

Masyarakat sangat minim kemampuan untuk itu karena pilihan yang diambil membawa masyarakat pada situasi minim informasi sehingga beban mengetahui ini tidak bisa dibebankan kepada masyarakat.

*

Sebagai penutup...

Semua ada konsekkuensinya. Realitas di lapangan saat ini adalah konsekuensi dari sebuah pilihan yang diambil saat ini dalam pengendalian penyebaran Virus Corona.

Seperti konsekuensi penyelidikan pada milinial dengan proyek...eh... program Triliunan... karena pilihan bersurat berkop dan berkonflik kepentingan itu.... ditengah Pandemi Corona pula.... sebuah konsekuensi logis biasa saja... tidak perlu menyalah-nyalahkan pihak lain...

(Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat RI)
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketidakmampuan Melacak Dan Stigma Tidak Jujur"

Posting Komentar