NGOAHHAHA .. Balada Pemusik Tua yang Bosan Sengsara Akhirnya Jilat Penguasa ..

Bawah Gambar
-
NGOAHHAHA .. Balada Pemusik Tua yang Bosan Sengsara Akhirnya Jilat Penguasa ..
Via FB Lantaran Kemekel – 15 Oktober pukul 05.06 ·
***

“Dapat Proyek dari Rezim Jokowi, Iwan Fals ‘Sepi’ Kritik Sosial, Bakal Ditinggal Pendukung”


Joko Widodo dan Iwan Fals (ist)
intelijen – Pengamat politik Sahirul Alem menantang musisi kawakan Virgianto Listyawan atau Iwan Fals untuk kembali menggebrak Indonesia dengan kritik terhadap penguasa, terutama terkait kondisi perekonomian yang semakin sulit.
“Iwan Fals seharusnya punya hati nurani menyuarakan kritikan sosial kepada rezim penguasa saat ini. Ia harusnya tetap independen. Kalau posisi masih mendukung Jokowi atau berpihak ke penguasa, akan ditinggalkan para pendukungya,” tegas Alem kepada intelijen (22/09).
Kata Alem, sikap Iwan Fals yang berpihak kepada penguasa akan mengurangi simpati rakyat. “Kalau saya baca di media sosial, banyak rakyat yang kecewa dengan sikap Iwan Fals saat ini,” papar Alem.
Menurut Alem, kalau musisi maupun budayawan sudah bergabung dengan penguasa menandakan, posisinya sudah ‘sangat rendah’. “Iwan Fals itu budayawan, ‘nilainya’ lebih tinggi dari presiden. Presiden yang biasanya mendatangi seorang budayawan. Namun, nampaknya Jokowi berhasil membungkam para budayawan yang dulunya kritis,” jelas Alem.
Lebih lanjut Alem berharap para seniman maupun budayawan menempatkan pada posisi independen yang selalu menyuarakan kebenaran. “Jangan sampai budayawan, seniman terkooptasi orang penguasa. Tugas mereka menyuarakan kebenaran,” ungkap Alem.
Di satu sisi, kendati aktif berkomentar di akun Twitter @iwanfals, Iwan Fals memang terlihat sepi kritik sosial. Sesekali Iwan berkomentar soal isu teranyar. “Yang ideal kondisi begini Istana Presiden pindah ke bandara ajalah. Atau presiden tinggal dikapal induk, supaya mobilitasnya tinggi, Indonesia ini luas sekali. Buset mikirin presiden jadi lupa nyinden, misi ah,” tulis ‏@iwanfals.
Seperti diketahui, Iwan Fals kini disibukkan dengan program sosialisasi pemerintahan Jokowi-JK. Salah satunya, Iwan mendapat proyek dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (DPDTT) Marwan Jafar menggandeng Iwan Fals untuk menginspirasi masyarakat desa agar bahu-membahu mewujudkan pembangunan kawasan perdesaan.
“Iwan Fals akan membantu saya memberikan ‘support’ (dukungan) pada saya, memberikan inspirasi dan pengaruh masyarakat desa,” katanya usai membuka Rapat Koordinasi Nasional Kementerian DPDTT bertemakan “Desa Membangun Indonesia”, di Jakarta, Selasa (31/03).
Sumber : intelijen.co.id
***

Haramnya Musik dan Profesi Penyanyi Jika Musiknya Membawa Keburukan


Tonton pnjelasan UAS


Posted on 4 Juli 2008 – by Nahimunkar.com
Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا…

 dan wanita-wanita yang kasiyat ‘ariyat mailat mumilat, kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan merasakan baunya surga…(HR Muslim) itu menurut sebagian ahli ilmu, maksudnya adalah wanita-wanita penyanyi/ al-mughonniyyaat. (Ashbahani, Dalailun Nubuwwah, juz 1 hlm 224).
Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, khathib Masjid Nabawi Madinah menulis satu buku berjudul Pengumuman bahwa musik dan nyanyian itu haram (al-I’laam bi annal ‘azfa wal ghina’a haroom).
Allah menyatakan kepada Iblis musuh seluruh manusia:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu…(QS Al-Israa’: 64).
Mujahid, seorang Imam Tafsir menyatakan, dari Ibnu Abbas ra dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “suaramu” (suara syaitan) adalah lagu, musik, dan senda gurau. Sementara itu Ad-Dhahhak menjelasakannya serupa: Suara syaitan yang dimaksud dalam ayat ini adalah suara musik. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 15).

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ(6)

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS Luqman: 6).
Mujahid mengatakan, “perkataan yang tidak berguna” (lahwal hadits) adalah mendengarkan lagu/ nyanyian dan kebatilan yang serupa”. Abdullah bin Mas’ud menyatakan, “Demi Allah yang tiada Ilah kecuali Dia, sesungguhnya lahwal hadits itu maksudnya adalah lagu-lagu/ nyanyian. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 16).

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ(59)

Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?

وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ(60)

Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?

وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ(61)

Sedang kamu melengahkan (nya) (dengan bernyanyi-nyanyi)? (QS An-Najm/ 53: 59, 60, 61).
Riwayat dari Ibnu Abbas, Ikrimah berkata, As-sumud menurut bahasa Himyar (salah satu kabilah dari bangsa Arab) adalah lagu. Jika dikatakan, usmudi lana ya fulanah, artinya:Nyanyikanlah untuk kami wahai Fulanah. Dalam menafsiri ayat di atas, Ikrimah berkata, “apabila mereka (orang-orang kafir) mendengar Al-Qur’an (dibacakan), mereka bernyanyi-nyanyi dengan lagu-lagu untuk menghalangi manusia dari mendengarkan Al-Qur’an itu. Maka diturunkanlah ayat di atas.” Karenanya, para ulama salafus shalih (generasi pertama yang shalih) menyebut (nyanyian itu) dengan istilah Qur’annya syaithan, karena lagu-lagu itu digunakan syaitan untuk menentang dan menandingi Al-Qur’an serta menghalangi orang dari mengingat Allah dan mengingat Al-Qur’an. Apakah celaan Allah terhadap kelakuan mereka yang menertawakan dan bernyanyi-nyanyi itu menunjukkan bahwa lagu tidak haram?
Ketiga ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas oleh para Imam tafsir, di antaranya Imam Al-Qurthubi, dikomentari dengan suatu keputusan: “Sesungguhnya ayat-ayat tersebut menunjukkan haramnya lagu/ nyanyian.” (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 18)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا(32)

Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS Al-Ahzaab: 32).

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…(QS Al-Ahzaab: 33)
Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkomentar: Oleh karena itu sangat aneh, jika suara lembut dari wanita yang sedang berbicara dengan lelaki lain diharamkan, tetapi nyanyian-nyanyiannya dengan kata-kata kotor dan manja yang ditujukan kepada siapa saja itu tidak diharamkan! Semestinya kaum zhahiri (yang memahami ayat dan hadits hanya secara dhahirnya teks belaka, pen) serta para pecandu lagu dan musik dapat menerima jika dikatakan: tergeraknya syahwat melalui suara-suara para penyanyi wanita dan lelaki itu lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan melalui suara gelang kaki, karena ucapan dan ungkapan (nyanyian) itu disertai irama dan musik.(Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 37).
(nahimunkar.org)
(Dibaca 1 kali, 1 untuk hari ini)

Anda sedang membaca NGOAHHAHA .. Balada Pemusik Tua yang Bosan Sengsara Akhirnya Jilat Penguasa ..
Lebih lengkap baca sumber http://bitly.com/2QU2PBy
Silakan Baca Berita Menarik Lainnya di Klik Sini
loading...
Labels:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget