Gempa Tsunami Palu dan Penjarahan yang Mencolok Mata

Bawah Gambar
-

Gempa Tsunami Palu dan Penjarahan yang Mencolok Mata

Musibah² Selanjutnya, yang terjadi disana. Harap para relawan berhati² ketika menuju ke Palu Sulawesi Tengah. “Hasbunallahu wani’mal wakiil”

Posted by Abu Fairuz Kolaka on Sunday, September 30, 2018

Bagaimanapun, perbuatan menjarah harta benda orang lain itu tetap tidak dibolehkan dalam Islam alias haram. Semua yang diharamkan dalam Islam pasti mengandung akibat tidak baik. Dari segi pemandangan saja sudah jelas tidak baik. Menunjukkan akhlak dan moral yang tercela, bahkan zalim.

Kasus itu mengiringi bencana gempa tsunami di Palu Sulawesi Tengah.

Gempa Tsunami Palu dipicu oleh dosa manusia, di antaranya pantai di Palu yang diterjang tsunami itu ternyata sesaat lagi rencananya akan diadakan upacara pembukaan festifal bermuatan kemusyrikan sesajen.

Sesajen Kemusyrikan yang dianggap sukses 28 September 2017, mau dibuka lagi dengan upacara festival besar tahunan di perkampungan baru (yang baru saja dibangun) di pantai Talise Palu. Upacara menghidupkan kembali kemusyrikan itu akan dibuka Jum’at malam 28/9 2018 dengan nama mentereng: Festival Pesona Palu Nomoni 3 Tahun 2018  . Namun Allah Ta’ala yang sangat murka terhadap kemusyrikan (tapi malah akan dibesar-besarkan kembali itu) dengan menurunkan bala’ bencana tepat sore hari menjelang upacara malam pembukaan pembangkitan kembali kemusyrikan itu dengan amukan tsunami yang memporak porandakan bangunan. Mayat-mayat pun bergelimpangan di pantai Talise Palu yang baru saja dibangun perkampungan dalam rangka festival tahunan pembangkitan kemusyrikan itu dengan biaya Rp4,3miliar. Pemkot Palu menggelontorkan dana sebesar Rp4,3miliar untuk pembangunan kawasan tersebut.

Ketika kemusyrikan telah mengakibatkan bala’ bencana gempa tsunami, selayaknya manusia ini menyadari akan dosa-dosa besarnya, terutama. Dan jangan sampai justru disusul dengan dosa-dosa baru lainnya.

Mari kita simak  betapa indahnya ajaran Islam.

***

Tetap Menghargai Hak Milik Orang Lain Pada Saat Tersulit Sekalipun

Tetap menghargai hak milik orang lain pada saat tersulit sekalipun adalah perbuatan yg dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Dalam shahih Al-Bukhori disebutkan : Ketika turun izin dari Allah bagi Nabi Muhammad untuk berhijrah ke Madinah. Beliau mendatangi rumah Abu Bakar disiang hari yg terik.

Abu Bakar yang kaget karena Rasulullah mendatanginya diwaktu terik siang hari langsung menduga bahwa ada urusan yg sangat penting.

Setelah beliau mempersilahkan Nabi untuk masuk, Nabi bersabda, “Wahai Abu Bakar perintahkan orang-orang yang ada dirumahmu untuk keluar sejenak.”

Abu Bakar menjawab, “mereka adalah putri2ku wahai Rasulullah.”

Rasulullah kembali bersabda, “Aku telah diizinkan oleh Allah untuk berhijrah.”

“Apakah aku boleh menemani hijrahmu wahai Rasulullah?” Tanya Abu Bakar.

“Iya.” Jawab Nabi.

“Aku memiliki dua tunggangan, pilihlah Salah satu yg engkau sukai.” Tawar Abu Bakar.
Kemudian Rasulullah menjawab, “AKU AKAN AMBIL TAWARANMU, TETAPI TETAP AKU BAYAR!” … [HR. Al-Bukhori No. 3694]

Nah, jadi buanglah kaedah “mengambil kesempatan dalam kesempitan”. Gantilah dengan “tetap menebarkan kebaikan meskipun dalam kesempitan”. Bisa?

Via fb أبو العباس أمين الله

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.717 kali, 1.216 untuk hari ini)


Anda sedang membaca Gempa Tsunami Palu dan Penjarahan yang Mencolok Mata
Lebih lengkap baca sumber http://bitly.com/2y7rfQd
Silakan Baca Berita Menarik Lainnya di Klik Sini
loading...
Labels:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget