Halloween Costume ideas 2015

Blog.Bringislam.web.id

Awas Ada Siomay Cu-Nyuk, Siomay Yang Dicampur Daging Babi !!

Awas Ada Siomay Cu-Nyuk, Siomay Yang Dicampur Daging Babi, 'cu nyuk' bermakna daging babi ini Tanggapan MUI

Beredarnya kabar Siomay Cu-Nyuk melalui media sosial membuat masyarakat resah. Pasalnya, karena tidak disertai keterangan bahwa Cu-Nyuk adalah daging babi, ada wanita berjilbab yang tertangkap kamera menjadi pembeli makanan haram tersebut.

Arti Cu-Nyuk Sendiri, Seperti yang kami Kutip dari DetikFood,


Baru-baru ini para pengguna ponsel dan media sosial banyak menerima pesan soal cu nyuk. Cu nyuk konon berarti daging babi, sehingga siomay cu nyuk dan bubur cu nyuk haram dikonsumsi muslim. Benarkah?
Siomay Cu-Nyuk
Ilustrasi, Sumber detik.com


Dalam sebuah foto yang beredar di media sosial, tampak sebuah stan mungil bertuliskan 'Siomay Cu-Nyuk' cukup ramai dikunjungi pembeli. Salah satu pengunjung stan yang tampaknya berada di dalam pusat perbelanjaan tersebut tampak mengenakan kerudung.

Pesan yang tersebar via ponsel maupun media sosial menyebutkan bahwa cu nyuk berarti babi. Usaha makanan berembel-embel cu nyuk disebut-sebut dapat ditemui di daerah Mangga Dua, Jakarta (siomay) dan di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang (cu nyuk moi, bubur babi).

Detikfood menanyakan kebenaran kabar ini ke Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

"Berdasarkan penelusuran kata 'cu nyuk' melalui sejumlah referensi, dalam Bahasa Khek/Hakka, 'cu' berarti babi, sedangkan 'nyuk' berarti daging. Jadi 'cu nyuk' bermakna daging babi," jelas Farid MS juru bicara LPPOM MUI(19/01/2015).

Ia menambahkan, bahasa tersebut biasa digunakan orang Hokkian yang banyak tinggal di Malaysia, Singapura, dan sebagian Sumatera, termasuk Bangka. Dalam Bahasa Mandarin, daging babi disebut 'zhurou'.

Salah satu broadcast message yang mengatasnamakan Aisha Maharani, pendiri Halal Corner, pun menyebut cu nyuk sebagai salah satu istilah yang merujuk ke babi. Istilah lainnya adalah charsiu, mu, chasu/yakibutan/nibuta, B2, dan khinzir

"Kalau menemukan restoran yang menuliskan istilah-istilah tersebut, jangan ragu meninggalkannya," ajak 'Aisha'.

MUI mengaku tidak dapat menindak pedagang siomay babi secara hukum. "MUI dan LPPOM MUI bukan lembaga polisional yang dapat serta-merta melakukan tindakan hukum terhadap penjual yang diduga menjual produk tidak halal," tegas perwakilan LPPOM MUI.

Selain itu, karena Undang-undang Jaminan Produk Halal (UU JPH) belum diberlakukan, para pedagang belum wajib mencantumkan keterangan halal pada produk yang mereka jual.

Namun LPPOM MUI menyayangkan penjual siomay tadi tidak memberitahu konsumen yang jelas beridentitas muslim tersebut sebelum mereka membeli produknya.

Lembaga inipun mengimbau muslim agar tidak ragu bertanya sebelum membeli makanan dan minuman.

"Konsumen muslim harap lebih berhati-hati dalam mengonsumsi produk, terutama ketika berada di komunitas konsumen yang mayoritas bukan beragama Islam. Pastikan produk yang dikonsumsi bersertifikat halal MUI," tutup LPPOM MUI.

Tanggapan MUI Mengenai Siomay Cu-Nyuk



Menanggapi Siomay Cu-Nyuk ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar konsumen muslim bertanya terlebih dahulu tentang makanan yang belum jelas bagi mereka.
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI sangat menyesalkan tindakan penjual Siomay yang tidak memberikan keterangan kepada konsumen yang jelas-jelas beridentitas muslim seperti memakai jilbab. Kendati demikian, LPPOM MUI tidak bisa melakukan penjual hukum.

“MUI tidak bisa melakukan tindakan hukum, mengingat MUI maupun LPPOM MUI bukan merupakan lembaga polisional yang dapat serta merta melakukan tindakan hukum terhadap penjual yang ditengarai menjual produk yang tidak halal,” demikian pernyataan LPPOM MUI seperti dikutip Hidayatullah.

Sementara itu, Kementerian Agama akan segera bertindak dengan melakukan koordinasi dengan beberapa instansi.

“Insya Allah Senin kami akan lakukan koordinasi terlebih dahulu dengan beberapa instansi,” kata Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Muchtar Ali saat dihubungi Republika, Jumat (23/1).

Lebih jauh Muchtar mengatakan, Kemenag akan mengajak MUI dan Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Sebab permasalahan beredarnya makanan haram ini bukan hanya menjadi tugas Kemenag. Kemenag hanya bertanggung jawab atas kehalalan makanan. Sedangkan masalah peredaran, itu menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan.

“Makanan ini bentuknya kemasan atau jajanan pasar, jadi yang dipermasalahkan bukan hanya masalah kehalalannya tapi peredarannya juga,” tambahnya. (dari berbagai sumber)

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget