Halloween Costume ideas 2015

Blog.Bringislam.web.id

Kemiskinan, Kado Pahit SBY di Akhir Jabatan

Ada kekhawatiran perkiraan angka kemiskinan di akhir masa jabatan Presiden SBY meleset dari target.

Salah satu keberhasilan yang menjadi klaim langganan rezim Susilo Bambang Yudhoyono adalah keberhasilan mengatasi angka kemiskinan. Hampir tidak ada tahun tanpa penurunan jumlah angka kemiskinan.

Melalui program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan sejak 1998 hingga kini, pemerintah mengklaim mampu menurunkan angka kemiskinan dari sekitar 23,43 persen di 1999 menjadi 12,49 persen pada 2011 dan turun lagi menjadi 11,6 persen di 2012. Ini tentu angka yang luar biasa.


Jika mengacu pada Perpres No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, angka kemiskinan tahun depan atau di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditarget 8-10 persen. Namun, pemerintah pesimis target tersebut bisa tercapai.

Bukannya kian turun, muncul kekhawatiran malah meningkat. Saat ini angka kemiskinan berada di kisaran 10 persen dan tahun depan diperkirakan naik menjadi 11 persen. "Itu (kenaikan angka kemiskinan) bukan hal yang kecil meski naiknya tipis (hanya 1 persen)," ujar Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di saat acara Outlook Economy 2014 di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (18/11).

Ia mengakui, kondisi ekonomi nasional tahun depan akan lebih menantang dibanding tahun ini. Begitu juga dengan upaya menekan angka kemiskinan. "Iklim investasi lebih banyak ke padat modal, sehingga menyebabkan daya serap tenaga kerja lebih menantang," katanya untuk tidak menyebut daya serap tenaga kerja berkurang.

Ia berdalih, persoalan dalam perekonomian nasional tak hanya soal angka kemiskinan, tapi impor barang modal dan bahan baku yang juga bakal meningkat. Hal ini seiring dengan makin banyaknya investasi di sektor padat karya. "Demi investasi tinggi jadi impor bahan impor modal, impor bahan baku. Hal itu yang masih mendominasi," jelasnya.

Ditambah lagi, kata Bambang, fokus perekonomian nasional tahun depan lebih mengarah pada keseimbangan stabilitas ekonomi makro dengan pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya. “Stabilitas ekonomi makro itu maksudnya soal otoritas moneter, policy rate dan inflasi. Di ekonomi makro juga ada indikasi perlambatan pertumbuhan," paparnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengungkapkan keyakinannya, Indonesia bakal berhasil mengentaskan kemiskinan dalam lima tahun mendatang. Caranya dengan meningkatkan ekonomi regional, kewirausahaan dan menambah lapangan kerja.

"Kami sangat optimis soal pemberantasan kemiskinan menjadi 11,66 persen dari 6 juta orang dari kemiskinan dalam lima tahun," kata SBY saat menjadi pembicara peluncuran J-PAL Southeast Asia di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tak Hilang

Bisa jadi SBY akan marah kepada para menterinya karena tidak bisa mengentaskan kemiskinan sesuai target di akhir masa jabatannya. Namun ia lupa bahwa kemiskinan yang coba diubahnya selama dua periode jabatannya itu adalah kemiskinan akibat bawaan sistem itu sendiri. Jadi mustahil akan hilang.

Lajnah Maslahiyah DPP HTI dalam analisnya menulis, kemiskinan struktural merupakan faktor yang paling berpengaruh dibandingkan kemiskinan alamiah dan kultural. Maka selama sistem kapitalis itu bercokol, otomatis akan melahirkan kemiskinan.

Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk menghapuskan kemiskinan ini kecuali dengan mengubah sistem kapitalis sekuler yang sekarang bercokol karena itu adalah sumber masalahnya. Sebagai gantinya, sistem Islam akan mampu mengatasi kemiskinan ini dengan baik menggunakan perangkat sistem yang khas.

Kalau sistem kapitalisme sekuler ini dipertahankan, kemiskinan tak akan pernah hilang. Coba ngaca Amerika![] 002

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget