Halloween Costume ideas 2015

BringIslam.web.id

Portal Berita Islam

Terbaru
'Idul Adha afganistan Agenda Sinting Ahok Akhlaq Akhwat Seks Akhwat shalihah Al-Arabiya Al-Islam Al-Qaida Al-Quds aliran sesat Alqur'an Amerika Amerika Bangkrut Anak Anak SD anal Analisis Ansyad Mbai Cari Muka Anti HTI Anti islam Apa Itu Jilboobs Apec Aqidah Arab Arab Saudi Artikel Artikel Islam Artis Arts AS Ashobiyah Australia Azab Bakso Babi Bali Ban Ki-moon Banci Bangladesh Bangsa Monyet Bantahan Hizbut-Tahrir Bantul Barat Basyar Asyad BBI BBM BBM Naik Bentrok Kendal Berita Berita Islam Berita Suriah Biseksual Bisikan Syetan Bisnis BLSM BNPT Bosnia BPJS Bps Buddhis Budha Budhis buletin Burma Candi Borobudur Chevron China CIA Cinta CyberWar Daerah Dakwah Dalil Khilafah Damaskus Daulah Democrazy Demokrasi Densu88 Densus Densus Ngawur Densus88 diskusi DIY Do'a Dolly DPR Drone Dunia Gila Dunia Islam Ekonomi Ekonomi Islam Eksploitasi perempuan embrio Erdegon Exploitasi Muslimah Facebook Fahmi Amhar Felix Siauw Felix Siaw Fenomena tak Lazim Fereeport Fiksi Filipina Film Fiqih Forum Ulama FPI Freeport Game Game Menghina Islam Gay Gaza GBK Gema Pembebasan Gempa Bali Generasi Gerakan Anti Islam Gila google GPI Guantanamo Gunung Kelud Guru Tawon Gus Sholah Gwe bgt Habib Riziq Hacker Hadharah Hadhoroh Hadist Halaqoh Online HAM Hamas Hamfara Hanung Bramantyo Hanura Hari Ibu Harokah Harry Tanoe Hasib Umat Islam Headline Hijab Hijrah hikmah Hindu Hiraclius Hizbut-Tahrir Hizbut-Tahrir Indonesia Hizbut-tahrir Sesat Homo Homs Hot Hot Topic HTI HTI Sesat HTI Sumut Hujan Darah I'edul Adha I'edul Fitri Iblis ICMS Ideologi Idrus Ramli Iedul Adha Ijtima'iy ikhwanul muslimin Ilmu Imam Syafi'i IMF India Indonesia Indonesia Lawyer Club IndonesiaMilikAllah info Info kesehatan Inggris Inspirasi Intelektual Muslim Internasional Intifadah irak Iran Irene Handono ISIS Islam Ismail Yusanto israel Jakarta Jambi Janin Jember Jenggot JICMI 2013 Jihad Jihad Seks JIL Jilbab Jilboobs Jima JIS JK JKN Jogjakarta Jokowi Jokowi-Ahok Jokowi-Jk Jombang Jubir Judi Online Jurus Ampuh Membungkam HTI kaffir Laknatullah Kafir Kafir Harbi Fi'lan Kafir Penjajah Kahsmir Kapitalisme Kapitalisme Tumbang Kaum Luth keadilan Keajaiban Kebebasan Kebesaran Allah Kekerasan kekerasan terhadap anak Keluarga Kemiskinan Kendal Kerudung Kesehatan Keterbelakangan Khabar Khasmir Khazanah khilafah khitbah Kholifah Khutbah 'Iedul Fitri Kimua Kin KIP Kisah Kolonial Komunis Kondom Konspirasi Konspirasi Amerika Konstitusi Konsultasi kontes Kecantikan Kontes Keputrian Kontes Muslimah Kontes Perempuan Kontroversi Korea Utara Korupsi KPI KPK Kriminal krisis bawang Krisis Mesir Kristen Radikal Kristenisasi Kristologi Kritik KUHP Kulite Jeruk Kunang-Kunang Surga Lailatul Qodar LBGT LDII Nasional Lebanon Lesbian Liberal Liberalisme Liqo Syawal Liqo' Syawal Longsor Luar Negri Maha Bharata Mahasiswa Mahfud MD Makanan Makanan Sehat Malang Malaysia mali Manfaat Kulit jeruk Manusia Marcos Tuwan Marcusuar masa lalu Media Megan Young Menarik Mendagri Merayakan tahun baru Mesir Metro Tv MHTI Miras Miris Misionaris Miss Worl 2013 missword MissWorld MK MNCTV Motivasi Mua'alaf Mualaf Muhammadiyah Muharram Muhasabah MUI Mujahid Mujahidah Mujahidin Mukjizat Mukmin Muktamar Khilafah Muktamar Ulama Munarman Murtadin Mus'ab bin Umair Muslim Muslimah Muslimah Hizbut-Tahrir Indonesia Musyrik my experience Myanmar Nabi Muhammad nabi palsu Nafsiyah Nashoro Nasihat Nasional Nasional TKI Nasionalisme Nasrani Natal Nato Neoliberal New life News ngawur Nu Nushroh Obama opini Pacaran Padang Pakistan Palembang Palestina Pancasila Papua Merdeka Partai Bulan Bintang PBB Pedofil Pelarangan Hijab Pelarangan Kerudung Bali Pelecehan Pembakaran Al-Qur'an Pembakaran Al-Quran Pemenang Missworld Pemerintahan Baru Pemikiran Pemilu Pemimpin Pemuda Pemuda Pemudi Pemudi Pendidikan Pendidikan Anak Pendidikan Indonesia Penguasa Penghianat Penguasa Pengkhianat Pengungsi Suriah Pengusaha Muslim Penipuan Penjajah penjajahan Penodaan Penyadapan Perang Perayaan tahun baru Perempuan Pernikahan Persib Pertamina Photo pilkada Jabar Pilkada Jakarta Pilpres PKB PKN PKS Plesiran Pejabat Poligami Politik Polri Porno Poster Prancis Presiden Baru Propaganda Puasa Quraish Shihab Qurban Ramadhan Ranjang Remaja Renungan Reportase Rezim Diktator Riau riba Rizqi Rohingnya Rohingya Rohinngnya Rohis Rohngnya Rokok RPA Ruhut Sitompul Rusia RUU Ormas Sahabat Rasul Sains Salibis Salju Sara SBY Sedekah Sejarah Sejarah Demokrasi Seks Sekuler Sekulerisme Semarang Sendau Gurau Senjata Kimia Sertifikasi Seruan Silaturrahmi Akbar Sinting Sistem Sampah siyasah Social Media Solo somalia Sosok Sperma Streaming Subhanallah Sudan Sumpah Pemuda Sunnah Nabi Surabaya Surat Pembaca Surga Suriah Syakhsiyah Syakhsiyah Islam Syam Syariah Syetan Perempuan Syi'ah Syiah Syuhada taaruf Tabligh Akbar Tafsir Tafsir al-Qur'an Tahanan tahun baru tahun baru 2014 Takziyah Tambang Emas Tambang Freeport Tangerang Tanya Jawab Tarbiyatul Aulad Tarif Listrik Tausiyah Tebu Ireng Tekhnologi Tepi Barat Teroris Terorisme terroris Thariqoh Thoghut Ticket Jicmi Timur Tengah Tips TKI Togel Online Tokoh Tolak Apec Tolak Miss World Tolak Obama Transgender tsaqofah Tsaqofah Islam Tunisia Turkey Turkistan Timura Tv One Uighur Ukhuwah Ulama Ummat Islam Umum Undip Unik Ust. Arifin Ilham Ustadz Felix Siauw Utang Indonesia Valentain Valentine Video Waktu Luang Wanita Wawancara We Want Khilafah Xinjiang Yahudi Yogyakarta Yunani Zionis

Deklarasi ISI, Pembungkaman Ormas Model Orde Baru

Jogjakarta, Jumat 17/6/2016, Rektor ISI Yogyakarta, prof Dr. M. Agus Burhan, M. Hum menyampaikan deklarasi pelarangan ormas dan orpol di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Deklarasi dibacakan di depan seratusan massa alumni ISI Jogja. Salah satu poin dalam deklarasi tersebut adalah pelarangan penyebaran ideologi yang bertentangan dengan visi & misi ISI Jogja.

Pelarangan tersebut bertolak belakang dengan kebebasan mimbar akademis yang diagung-agungkan dunia akademis sendiri. Mimbar akademis semestinya mensikapi wacana-wacana yang berkembang dengan wacana tandingan. Bukan dengan tindakan pencekalan-pencekalan sepihak seperti lazim dilakukan rezim otoriter orde baru yg digulingkan oleh mahasiswa dalam reformasi 1998.

Bahkan, pelarangan itu sendiri bertentangan dengan kalimat Rektor dalam penutup deklarasi itu sendiri; yaitu bahwa deklarasi ditujukan untuk menjaga komitmen pengembangan kreativitas seni & pengembangan ilmu seni di lingkungan ISI Jogja dalam suasana akademis yang netral dan sehat. Suasana akademis yang netral dan sehat semestinya tidak melakukan represi birokratis atas wacana yang tengah menjadi primadona di masyarakat kampus. (L. Roya)
[www.bringislam.web.id]


Ramadhan yang dinanti saat ini telah benar-benar berada di tengah kita, samudera keutamaan pun telah membentang luas bagi setiap hamba yang menginginkan limpahan rahmat dan ampunan dari Rabb pemilik Arsy yang agung. Hanya orang-orang yang “tidak tahu diuntung” sajalah yang akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Benarlah sabda Baginda Nabi SAW. bahwa orang yang celaka itu adalah orang yang bertemu dengan Ramadhan, kemudian berlalu Ramadhan sementara ia tidak mendapatkan ampunan Allah SWT. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi kita untuk memaksimalkan waktu dan kesempatan yang kita miliki saat ini untuk memperbanyak amal sholih serta menjaga agar amaliah-amaliah yang kita lakukan itu tidak berakhir sia-sia di hadapan Allah SWT.

Diantara syarat diterimanya amal ibadah seseorang adalah selain harus sesuai dengan tuntunan syariat, amalan itu juga harus disertai dengan niat yang ikhlas mengharapkan Ridho Allah SWT. Ikhlas adalah fondasi diterimanya amal ibadah seseorang. Dalam hal puasa secara khusus Rasulullah SAW. Bersabda “barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT., maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhori Muslim).
Demikian pula dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, hendaknya kita niatkan hanya untuk mengharapkan pahala di sisi Allah SWT. sebab jika tanpa keikhlasan, maka sungguh semua Ibadah dan amalan yang kita kerjakan itu hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan, penyesalan dan kerugian yang teramat besar di akhirat nanti.

Imam Muslim meriwayatkan hadits yang cukup panjang dari penuturan Abu Hurairah RA. Bahwa Rasulullah SAW. Bersabda ““Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur’an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur’an supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Qur’an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.”

Demikianlah amalan-amalan agung dan mulia itu tertolak karena tidak dilandasi sikap ikhlas. Maka sudah sepantasnya kita mawas diri dengan terus menerus memperbaharui dan meluruskan niat kita. Jangan sampai kita terlena dengan banyaknya amal ibadah yang sudah kita lakukan selama ini. sebab boleh jadi pernah terselip riya’ dalam sholat dan puasa kita, sebab boleh jadi kita pernah kehilangan sikap ikhlas dalam dakwah dan perjuangan kita dijalan Allah. Semoga tempaan Ramadhan tahun ini akan semakin mengokohkan komitmen dan keikhlasan kita dalam beraktivitas mengharap Ridho Allah SWT. Amin ya Rabb al-alamin.

Oleh: Zahrudin, S.Pd.I (Humas HTI Sulteng)

[www.bringislam.web.id]

Ada yang Aneh dalam Deklarasi Pelarangan Ormas Orpol di Kampus ISI Yogyakarta

Jumat 17/6, di hadapan 100 massa yang terdiri dari beberapa alumni, mahasiswa, dan dosen, Rektor ISI Yogyakarta Prof. M Agus Burhan, M.Hum menyampaikan deklarasi pelarangan organisasi massa (ormas) dan organisasi politik (orpol) di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Deklarasi ini dibacakan di atas panggung kecil di depan gedung rektorat kampus.

Namun ada sesuatu yang aneh dalam acara tersebut. Nampak Yustoni Volunteero, aktivis seni sosialis Taring Padi malah berorasi di atas panggung dengan didampingi seseorang yang mengibarkan bendera organisasi massa Islam terbesar di Indonesia (Nahdlatul Ulama). Meski demikian tidak juga tampak tokoh representasi NU di atas panggung tersebut.

Satu hal lain yang menarik adalah, Yustoni juga menggunakan pakaian identitas Islam tradisional -layaknya santri, yang tampak sangat dipaksakan karena pergelangan tangannya yang dipenuhi tato. Padahal bertato hukumnya adalah haram menurut ijma’ ulama bahkan merupakan salah satu dosa besar.

Dari fenomena tersebut, nampak bahwa deklarasi hanya menyasar ormas atau orpol tertentu yang tidak disukai oleh massa, dan bukan merupakan deklarasi yang adil dan berimbang.

“Jika aktivis sosialis dan bendera NU bebas dikibarkan di Kampus ISI, lalu kenapa HTI dipersoalkan?”, ungkap seorang netizen.

Di dalam deklarasinya Rektor ISI menyampaikan tiga poin; 1) Melarang keberadaan organisasi massa dan partai politik apapun di kampus ISI Yogyakarta. 2) Melarang adanya kegiatan organisasi massa dan partai politik maupun penyebaran ideologinya yang bertentangan dengan visi & misi kampus. 3) ISI Yogyakarta menjadi pelopor perguruan tinggi seni nasional yang unggul kreatif & inovatif berdasarkan Pancasila.

(L. Roya)

[www.bringislam.web.id]

Panglima TNI: Neo Kapitalisme dan Neo Liberalisme Lebih Berbahaya dari PKI

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menghadiri simposium mewaspadai PKI. Usai memberi ceramah, Gatot menyampaikan ada yang lebih berbahaya dari PKI, yakni neo liberalisme dan neo kapitalisme.

"PKI berbahaya tapi yang lebih berbahaya neo kapitalisme, neo liberalisme," jelas Gatot di Jakarta, Kamis (2/6/2016).

Gatot memberi contoh di negara-negara yang terimbas dari paham neo kapitalisme dan neo liberalisme.

"Memang sudah ada contoh di Belanda, Prancis, Denmark sekarang gereja mulai dijual karena kosong. Ini proses lama-lama orang jadi ateis nanti masuk jadi komunis, jadi harus diwaspadai ini," imbuh dia.

Komunisme lanjut, Gatot, sudah dilarang sesuai Tap MPRS No 25 tahun 1966. Jadi dengan keputusan MPRS ini sudah kuat kalau komunisme dilarang.

"Jadi sudah final. Saya juga mengingatkan kebangkitan PKI bukan dilihat hanya di permukaan, tapi di bawah permukaan," tegas dia.

[www.bringislam.web.id]

Oleh: Umar Syarifudin (Lajnah Siyasiyah DPD HTI Kota Kediri)
KTT ASEAN-RUSIA di Sochi terbukti ampuh bagi Rusia, untuk mempertegas ekspansi politik dan ekonomi di Indonesia. Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Chief Executive Officer (CEO) Rosneft, Igor Sechin, di Sochi, Rusia, Jumat (20/5) lalu, telah membuahkan sebuah kesepakatan penting. Raksasa minyak asal Rusia itu akan menjadi mitra PT Pertamina (Persero) untuk membangun kilang minyak di Tuban, Jawa Timur. Padahal, sebelumnya pemerintah disebut-sebut lebih condong kepada Saudi Aramco untuk menggarap proyek bernilai ratusan triliun rupiah tersebut.
Rosneft, memenangkan tender pembangunan kilang minyak di Tuban, dengan nilai investasi mencapai 13 miliar dollar AS, atau setara Rp 175,5 triliun. Rosneft meupakan perusahaan multinasional terbesar yang dimiliki oleh pemerintah Rusia dan menghasilkan berbagai macam produk perminyakan.Presiden Joko Widodo sepakat dengan pilihan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M Soemarno, bahwa Rosneft yang akan bekerjasama dengan PT Pertamina (Persero) dalam pembangunan kilang Tuban. Menurut Rini, secara keseluruhan potensi ladang minyak milik Rusia mencapai 200 juta barel. Ia berharap dalam sehari setidaknya 35 ribu barel bisa diserap. Selain memiliki kapasitas produksi sebesar 320 ribu barel minyak per hari, kilang tersebut akan diintegrasikan dengan pabrik petrokimia.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, Petamina akan mengumumkan Rosneft sebagai mitra investornya untuk membangun Kilang Tuban pada Kamis mendatang (26/5). Saat ini, Pertamina dan Rosneft masih bernegosiasi untuk memfinalisasi porsi kepemilikan saham masing-masing perusahaan di kilang tersebut.
Jauh sebelum ini, Arab Saudi melalui Vice President of International Operations Saudi Aramco Said Al-Hadrami mengakui, pihaknya telah mendapat tawaran dari Pertamina untuk membangun Kilang Tuban pada 2012 silam. Belakangan, rencana itu kandas karena pemerintah tidak bisa menyanggupi permintaan Saudi untuk memberikan insentif pembebasan lahan kilang tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Dwi Soetjipto menyatakan, pemilihan Rosneft sebagai mitra membangun Kilang Tuban bukan berdasarkan satu aspek penilaian. Poin lainnya adalah perusahaan asal Rusia itu mampu memasok minyak untuk kebutuhan pengamanan energi di Indonesia.
Bahaya Investasi Asing
Para penganjur investasi asing berargumen bahwa sekali investasi asing masuk, maka hal itu akan menjadi batu alas bagi masuknya investasi lebih banyak lagi, yang selanjutnya menjadi tiang yang kokoh bagi pembangunan ekonomi keseluruhan. investasi asing sebenarnya adalah kedok baru bagi imperilisme di bidang ekonomi. Contoh dalam kasus Papua bisa kita saksikan kehidupan di kompleks Freeport tampak gemerlap, akan tetapi kontras dengan tingkat kemiskinan di Papua.
Dan investor asing, lebih dari investor lokal, sangat mudah merelokasikan investasinya ke tempat-tempat yang lebih menguntungkan dan menciptakan situasi ekonomi yang sangat fluktuatif (boom and bust economy). Studi jangka panjang yang dilakukan oleh Tanushree Mazumdar mengenai dampak investasi asing di India, menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara investasi asing dan pertumbuhan ekonomi.
Merupakan mitos bahwa investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas  pasar atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi ‘know-how’ lokal yang baru. Kenyataannya, investasi asing lebih tertarik untuk membeli perusahaan-perusahaan BUMN kategori untung/sehat dan kemudian memprivatisasinya atau membeli perusahaan-perusahaan swasta dalam kategori yang sama, dan menguasai pasar perusahaan tersebut. Sementara dalam soal teknologi, mereka hanya menjual atau menyewakan desain teknologi yang telah dibuat di ‘negara asal,’ yang jumlahnya mencapai lebih dari 80 persen.
Jadi, apa yang disebut alih teknologi itu adalah bagaimana cara-cara baru dalam menjual teknologi, bukan alih kemampuan riset dan desain teknologi. Dalam kasus Amerika Latin, sejak dekade 1980an, lebih dari setengah investor asing hanya membeli perusahaan-perusahaan yang ada, dengan harga di bawah nilai pasar. Setelah itu, alih-alih melengkapi kapital lokal atau kapital swasta domestik, investasi asing ini malah menyingkirkan (crowds-out) kapital lokal dan inisiatif publik, serta meremehkan kemunculan pusat-pusat penelitian lokal.
Dalam kaitannya dengan perluasan pasar, terdapat catatan yang beragam: dalam sektor dimana perusahaan publik butuh pendanaan, seperti telekomunikasi, pemilik asing baru mungkin akan memperluas pasar melalui penambahan jumlah pengguna jasa perusahaan tersebut. Tetapi dalam kasus lainnya, seperti air, listrik, dan transportasi, para pemilik baru ini malah mereduksi pasar, khususnya dari kalangan berpendapatan rendah melalui peningkatan ongkos di luar kemampuan daya beli konsumen tersebut.
Mitos berikutnya bahwa investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor jasa/pelayanan). Faktanya, investor asing lebih tertarik membeli atau menginvestasikan uangnya ke sektor-sektor pertambagangan yang sangat menguntungkan dan kemudian mengekspornya dengan sedikit atau tanpa nilai tambah sama sekali.
Merupakan mitos pula bahwa investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor. Faktanya, investor asing terlibat dalam penipuan pajak, penipuan dalam pembelian perusahaan-perusahaan publik, dan praktek pencucian uang dalam skala besar.
Sebagai contoh, pada Mei 2005, pemerintah Venezuela mengumumkan bahwa terjadi penghindaran dan penipuan pajak sejumlah milyaran dollar yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perminyakan asing, sejak mereka menandatangani kontrak pada dekade 1990an. Seluruh perusahaan minyak dan gas Rusia telah dikuasai oleh sebuah kelas baru oligarki, yang berasosiasi dengan para investor asing untuk menghindari pajak sebagaimana terbukti dalam pengadilan dua oligarkh, Platon Lebedev dan Mikhail Khodorkovsky. Keduanya menghindari membayar pajak sebesar  US$29 milyar, dengan difasilitasi oleh bank-bank Amerika Serikat dan Eropa.
Sementara itu, dampak dari perusahaan-perusahaan multinasional ini pada keseimbangan neraca pembayaran untuk jangka panjang adalah negatif. Sebagai contoh, sebagai besar pabrik perakitan di zona ekspor  mengimpor seluruh bahan-bahan masukan (input) mesin, desain dan ketrampilan, serta mengekspor produk jadi dan semi jadi. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan neraca perdagangan dimana biaya impor tergantung secara relatif terhadap nilai ekspor. Dalam banyak kasus, komponen-komponen impor yang dimasukkan dalam ekonomi lokal lebih besar ketimbang nilai tambah dalam zona ekspor. Selain itu, sebagian besar pendapatan dari platform ekspor dinikmati oleh kelas kapitalis, semenejak kunci sukses dari bisnis ini adalah upah murah.
Mitos palsu berikutnya bahwa sebagian besar negara-negara Dunia Ketiga tergantung pada investasi asing untuk menyediakan kebutuhan modal  bagi pembangunan karena sumberdaya-sumberdaya lokal tidak tersedia atau tidak mencukupi. Temuan Petras dalam studinya berjudul Six Myths About the Benefits of Foreign Investment
The Pretensions of Neoliberalism (2006), justru menunjukkan hal sebaliknya, dimana mayoritas investasi asing itu adalah investor asing yang meminjam tabungan nasional untuk membeli perusahaan-perusahaan lokal dan membiayai investasinya.
Investor asing dan MNCs (multinasional corporations) melindungi pinjaman luar negerinya melalui bantuan pemerintah lokal, atau secara langsung menerima pinjaman dari dana pensiun lokal dan perbankan. Laporan terkini tentang dana pensiun yang digunakan untuk membiayai MNCs lokal di Meksiko menunjukkan bahwa Banamex, bank swasta kedua terbesar di Meksiko (pada 2001 merger dengan Citigroup Inc), memperoleh jaminan pinjaman sebesar 28.9 milyar pesos (US$2.6 milyar), American Movil (Telcel) 13 milyar pesos (US$1.2 milyar), Ford Motor (untuk pinjaman jangka panjang) sebesar 9.556 milyar pesos) dan 1 milyar pesos (untuk pinjaman jangka pendek), General Motors (sektor keuangan)  menerima sebesar 6.555 milyar pesos.
Fakta ini menunjukkan bahwa pinjaman yang dilakukan oleh investor asing untuk mengambilalih pasar lokal dan fasilitas-fasilitas produktif, telah menjadi praktek yang umum, menyanggah gagasan bahwa investor asing membawa ‘modal segar’ ke negara berkembang tersebut. Hal yang sama pentingnya, fakta itu juga membantah gagasan bahwa negara-negara Dunia Ketiga, ‘butuh’ investasi asing karena kelangkaan modal  yang dimilikinya.
Yang sebenarnya terjadi, undangan pada investasi asing menyebabkan tabungan lokal dari investor swasta dan publik lokal menjadi terbatas pada peminjam lokal, sehingga memaksa mereka untuk melihat kreditor uang ‘informal’ dengan tingkat suku bunga yang mencekik. Akibatnya, ketimbang melengkapi keberadaan investor lokal, investasi asing justru bersaing untuk memperoleh tabungan lokal dari posisi istimewanya di pasar kredit. Dengan iming-iming jaminan aset (di luar negeri) yang besar dan pengaruh politik, mereka lebih mudah memperoleh jaminan pinjaman dari agen-agen pemberi pinjaman lokal.
Fakta penguasaan oleh asing atas kekayaan negeri ini, kontrol terhadap politik dan kebijakan negeri ini, dan ketergantungan terhadap asing membuat miris siapapun yang peduli dengan negeri ini dan penduduknya. Jika konstitusi mengamanatkan bahwa “tanah air dan segala isinya dikuasai oleh negara dan diguakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, fakta yang ada ternyata sangatlah jauh panggang dari api.
Liberalisasi Migas
                    Tingginya harga BBM dan gas di Indonesia, jika ditelusuri lebih dalam maka akan ditemukan akar masalahnya yakni amburadulnya kebijakan energi primer (BBM dan Gas) dan sekunder (PLN) di Indonesia.
Problem kelangkaan BBM diakibatkan oleh rusaknya sistem yang digunakan oleh pemerintah. Ujungnya adalah diterapkannya UU 22/2001 tentang Minyak dan Gasbumi yang sangat liberal. Pemerintah, melalui UU ini, lepas tanggung jawab dalam pengelolaan MIGAS.
Sebab dalam UU ini pemerintah pertama, membuka peluang pengelolaan Migas karena BUMN Migas Nasional di privatisasi. Kedua, pemerintah justru memberikan kewenangan kepada perusahaan asing maupun domistik melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak.
                    Perusahaan asing dan domestik dibiarkan menetapkan harga sendiri.  Padahal, di Indonesia dengan 60 kontraktor Migas yang ada terkatagori kedalam 3 kelompok, (1) Super Major yang terdiri dari ExxonMobile, Total Fina Elf, BP Amoco Arco, dan Texaco ternyata menguasai cadangan minyak 70% dan gas 80% Indonesia. (2) Major yang terdiri dari Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, dan Japex telah menguasai cadangan minyak 18% dan gas 15%. Dan (3) Perusahaan independen menguasai cadangan minyak 12% dan gas 5%. Tahun 2016 Rusia mulai menjajaki investasi, sebagai jembatan menuju dominasi politik dan ekonomi besar-besaran di Indonesia.
Walhasil, kita bisa melihat bahwa minyak dan gas bumi kita hampir 90% telah dikuasai oleh asing. Mereka semua adalah perusahaan multi nasional asing dan berwatak kapitalis tulen. Wajar jika negeri berlimpah ruah akan minyak dan gas ini ’meradang’ tatkala harga minyak mentah dan gas dunia naik. Semuanya dijual keluar negeri oleh perusahaan asing tersebut.
Dominasi asing dalam usahanya mengeruk dan menguras habis sumberdaya alam kita bukan disebabkan kinerja mereka sendiri, tetapi karena kekuasaan dan kewenangan besar yang dihambakan oleh pemerintah kepada mereka. Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai negara produsen minyak dunia dan merupakan anggota OPEC, telah menjadi negara pengimpor minyak, yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. Kondisi ini semakin diperparah ketika Pemerintahan SBY yang baru naik pada waktu itu langsung membuat kebijakan menaikkan harga BBM sebesar 126% pada tahun 2005, dengan alasan untuk menyesuaikan terhadap harga minyak dunia.
Padahal minyak yang diimpor setiap tahunnya hanya sebesar 10 persen dari total kebutuhan BBM Indonesia, sedangkan 90 persen lagi, dapat dihasilkan dari bumi Indonesia sendiri. Semakin naiknya harga minyak dunia setiap tahun, membuat subsidi pemerintah terhadap harga BBM semakin besar.
Menuju Kedaulatan Energi
Kasus minyak Tuban masih dalam spektrum kuatnya dominasi asing terjadi di sektor migas. Meskipun pemerintahan telah berganti, harapan agar pengelolaan sektor migas dikelola secara maksimal oleh BUMN sangat tipis. Pertamina hingga saat ini tetap tidak mendapatkan prioritas dalam mengelola ladang-ladang minyak dan gas, baik pada blok-blok baru maupun pada blok-blok yang telah habis masa kontraknya.
Apa yang dialami oleh Pertamina juga terjadi pada BUMN lain seperti PT Bukit Asam dan PT Antam, PT Perkebunan Nusantara dan Perhutani. Meskipun mereka dituntut untuk menghasilkan laba besar dan menyetor deviden kepada Pemerintah, mereka tidak mendapatkan prioritas dan dukungan dalam berinvestasi. Pada saat yang sama, pemerintah yang baru, sebagaimana rezim-rezim sebelumnya, terus mengobral negara ini dengan memberikan kesempatan yang luas kepada investor asing untuk memanamkan modalnya termasuk menggarap sektor-sektor yang berbasis sumberdaya alam. Akibatnya, sektor-sektor tersebut kian didominasi oleh swasta termasuk asing. Semua ini terjadi lantaran negara telah menjadikan sistem kapitalisme sebagai basis dalam pengelolaan ekonomi.
Dalam pandangan Islam, minyak bumi dan gas merupakan sumberdaya alam yang melimpah sehingga masuk dalam kategori barang milik publik (al-milkiyyah al-‘ammah) yang pengelolaannya harus diserahkan kepada negara secara profesional dan tentu bebas korupsi agar  seluruh hasilnya dikembalikan kepada publik. Mari kita stop kapitalisme,kita wujudkan tatanan yang pro rakyat yang hanya bisa terwujud dengan diterapkannya syariah Islam secara kaffah.


Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mendukung rencana pengaturan peredaran minuman beralkohol kembali ke peraturan daerah. Menurut Tjahjo, pemerintah daerah setempat yang paling mengetahui kebutuhan masyarakat, termasuk kota wisata yang sulit menerapkan larangan minuman beralkohol itu.

"Kami serahkan miras itu kepada perda-perda, kepada daerah, agar sesuai dengan adat istiadat dan kondisi geografis yang ada," kata Tjahjo di Istana Kepresidenan, Rabu (16/9/2015).

Ia mengaku mendapat keluhan dari sejumlah kota wisata akibat pelarangan minuman beralkohol itu. Salah satunya adalah Bali, yang menjadi destinasi favorit turis mancanegara. Maka dari itu, Tjahjo menilai tepat jika soal peredaran minuman beralkohol itu dikembalikan ke daerah.

Tjahjo tidak sepakat dengan alasan melarang peredaran minuman beralkohol karena bisa memabukkan dan berujung pada tindak kekerasan. Menurut dia, kerusuhan yang ditimbulkan pemabuk hanya ulah oknum tak bertanggung jawab.

"Kalau itu dijadikan alasan bahwa karena faktor mabuk, kemudian enggak boleh jual minuman keras, ya tidak bisa begitu," kata dia.

Meski demikian, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menekankan agar peredaran minuman beralkohol itu tidak sampai dikonsumsi anak di bawah umur. Maka dari itu, dia menyatakan bahwa peredaran minuman alkohol tidak bisa dijual bebas layaknya minuman mineral.

"Itu harus ada tandanya, dijual tempat-tempat tertentu, tidak boleh di tempat terbuka, luas, apalagi di pinggir jalan. Itu juga ada di undang-undang," kata Tjahjo.

Kementerian Perdagangan dalam waktu dekat akan merelaksasi aturan terkait penjualan minuman beralkohol. Hal ini merupakan salah satu hal yang masuk dalam Paket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pemerintah pada 9 September 2015.

Adapun aturan yang akan direlaksasi adalah Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No 04/PDN/PER/4/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A. Deregulasi akan memberikan kewenangan kepada pemerintah kabupaten dan pemerintah kota untuk menentukan lokasi mana saja yang boleh menjual, khususnya di wilayah wisata.

Setidaknya ada sembilan jenis minuman beralkohol golongan A yang beredar di Indonesia, yaitu shandy, minuman ringan beralkohol, bir, lager, ale, bir hitam atau stout, low alcohol wine, minuman beralkohol berkarbonasi, dan anggur brem Bali.

Sumber: Kompas
[www.bringislam.web.id]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget